Hikmah Hijrah Nabi Muhammad SAW

Memetik Hikmah Hijrah
Dalam Islam ada tiga bentuk hijrah:
  1. Berpindah dari negeri yang penuh kesyirikan ke negeri Islam, seperti hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Makkah (negeri yg penuh kesyirikan kala itu) ke Madinah (negeri Islam).
  2. Berpindah dari Negeri yang menebar teror atau menakutkan ke negri yang aman, sepeti Hijrahnya Rasulullah dan sebagian sahabat ke Habasayah (Etopia).
  3. Meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebagaimana dijelasakan dalam sabad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

( اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ) رواه البخاري

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala ” (HR. Al Bukhari)
Hijrah adalah sebuah tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. Hijrah adalah peristiwa yang sangat menentukan bagi kesuksesan Rasulullah saw. mengemban risalah dalam rangka mengeluarkan manusia dari beraneka kegelapan menuju cahaya kebenaran. Sebelum peristiwa Hijrah terjadi, Rasulullah saw. telah berupya sekuat tenaga untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan. Akan tetapi, usaha beliau kurang membuahkan hasil kalau tidak akan dikatakan mengalamai kemandekan dan kegagalan. Berbagai macam tantangan dan cobaan dihadapi Rasulullah saw. selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Makkah. Keluhan Rasulullah saw. direkam oleh Allah swt. seperti diucapkan melalui lidah nabi Nuh as. dalam surat Nuh [71]: 5-7

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا(5)فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا(6)وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا(7)

Artinya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang (5). maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) (6). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat (7).”
Akhirnya, atas perintah Allah swt. Nabi saw. melakukan hijrah yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah. Dan ternyata, di Madinah Rasulullah saw. memperoleh kesuksesan besar dalam berdakwah mengembangkan agama Islam. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, seluruh jazirah Arab tunduk di bawah kekuasan Negara Islam yang berpusat di Madinah.
Ada banyak hikmah di balik peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Di antaranya;
Pertama, bahwa kegagalan tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa dalam berjuang mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Jika manusia mengalami kegagalan di suatu tempat, di sebuh metode dan cara, maka hendaklah dia mencari tempat, cara atau metode baru dalam mencapai kesuksesan.
Rahmat dan karunia Allah itu tersebar luar, allquran meyakikan.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ(87)

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf ayat 87)
 Kedua: semangat pengorbanan
Ketika akan hijrah, Abu Bakar ash-Shiddiq membeli dua ekor unta yang akan mereka kendarai menuju Madinah. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Saya telah membeli dua ekor unta untuk kendaraan kita menuju Madinah. Silahkan engkau pilih mana unta yang engkau sukai dari kedua unta ini!”. Rasulullah menjawab, “Tidak, saya tidak akan menaiki unta yang bukan milik saya”. “Unta ini adalah milik engkau yang Rasulullah, karena saya telah menghadiahkannya untukmu”. Jawab Abu Bakar.
Rasulullah tetap menolak untuk mengendarai unta tersebut, sebelum mengganti harganya seharga yang dibeli oleh Abu Bakar. Akhirnya, Abu Bakar mengalah dan menerima uang dari Rasulullah saw. sebanyak harga dia membeli unta tersebut.
Begitu pula Rasulullah saw bersama Abu Bakar sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau adalah mencari tempat di mana masjid akan dibangun. Setelah mendapatkan lahan yang tepat, pemilik tanah yang akan dijadikan tempat berdirinya masjid tersebut berkata, “Ya Rasulullah! Tanah ini saya wakafkan sebagai tempat pembangunan masjid”. Namun, Rasulullah menolak sambil berkata, “Saya akan membangun masjid di atas tanah yang saya beli dengan harta saya”. Akhirnya, pemilik tanah tersebut menjual tanah itu kepada Rasulullah untuk kemudian dijadikan tempat pembangunan masjid Nabi.
Dari kisah tersebut, ada hal yang ingin diajarkan Rasulullah kepada umatnya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar perlu ada pengorbanan. Tidak akan ada kesuksesan besar, tanpa adanya kesediaan untuk berkorban. Buknakah kta hijrah dan perjuangan selalu seringkali dikaitkan dengan pengorbanan harta bahkan nyawa? Lihatlah firman Allah dalam surat at-Taubah [9]: 20

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ketiga : Konsep pemahaman tawakal yang benar
Jika kita ingin belajar tawakal dengan benar maka lihatlah kisah hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menampakkan sikap tawakal dan mengambil sebab-sebabnya.
Dalam hijrah tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil sebelas sarana (rencana) yang menjadi sebab-sebab yang mengantarkan pada kemenangan dan keselamatan, beliau tidak meninggalkan planingnya sama sekali… beliau keluar dari rumahnya di akhir malam agar tidak diketahui oleh kaum kafir, kemudian beliau pergi ke rumah Abu Bakar di pertengahan siang hari, dimana Abu Bakar berkata, “Beliau mendatangi kami di waktu yang tidak biasanya beliau datang kepada kami” hal itu dilakukan untuk mengelabui kaum kafir.
Nabi pun mengabarkan perintah hijrah kepada Abu Bakar, maka keduanyapun keluar dari pintu belakang rumah, beliau mengambil jalan arah utara—padahal Madinah terletak di arah selatan— agar jejak keduanya tidak bisa dilacak oleh orang-orang musyrik yang menyisir jalan arah selatan ke kota Madinah. Kemudian keduanya bersembunyi di dalam goa Tsur selam tiga hari lebih dengan penuh kehati-hatian. Sementara Abdullah bin Abu Bakar bertugas sebagai informan yang membawa kabar tentang orang-orang Quraisy, sementara Asma bertugas membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.
Lihatlah sebuah perencanaan yang matang…tidak seorang quraisy pun yang dapat membaca perencanaan ini…sampai pada Asma binti Abu Bakar juga tidak seorang pun menyangka wanita ini yang kondisinya sedang hamil tujuh bulan….
Anda telah meyaksikan bagaimana perencanaan orang yang tawakal kepada Allah.
Lalu bagaimana dengan bekas-bekas jejak kaki Asma ini, Abu Bakar memerintahkan penggembala kambingnya, Abdullah bin Fahirah agar gembalaan kambing-kambingnya setiap hari melewati jalan yang biasa dilalui oleh Asma, seakan-akan memang dia menggemabla dan tidak ada satupun yang meragukannya.
Akan tetapi setelah perencanaan ini, apakah kaum kafir berhasil menyusul Rasulullah dan Abu Bakar?  Mereka nyaris menemukan keduanya dan mereka telah berdiri di mulut gua… mungkin dalam benak kita terbesit, tidak masuk akal setelah semua perencanaan matang ini kaum kafir  bisa mencapai tempat persembunyian keduanya?
Itu logika manusia… akan tetapi logika Allah Al Wakil sengaja menghendaki agar kaum kafir sampai di tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, untuk mengajarkan kepada Nabi dan kita semua arti tawakal kepada Allah, bahwa melakukan sebab-sebab itu wajib akan tetapi jangan mengatakan bahwa sebab-sebab itulah yang menyelamatkannya.
Kaum kafir dan musyrik sampai di depan mulut goa, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya pasti akan melihat kita.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab untuk menenangkannya, “Bagaimana menurutmu dengan dua orang semnetara Allah yang ketiganya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”
Inilah arti tawakal yang harus kita pelajari dan tanamkan di dalam jiwa kita untuk menghilangkan deprsi yang menguasai para pemuda usia dua puluh tahunan karena khawatir dengan masa depannya, serahkan dan pasrahkan kepada Allah, tawakallah kepada-Nya dan lakukanalah sebab-sebabnya. Dengan sikap lapang ini akan banyak problematika teratasi.
Begitulah cara yang paling tepat untuk bertawakal. Bahwa tawakal dilakukan setelah sebelumnya ada perancaan yang matang dan usaha yang maksimal, barulah kemudian menyerahkan hasil dan keputusannya kepada Allah. Jika tidak ada perencaaan dan usaha, maka tawakkal dalam hal ini adalah sesuatu yang keliru.
Keempat: ketika Nabi saw. telah sampai di Madinah, maka hal pertama yang dilakukan beliau adalah membangun Masjid sebagai tempat peribatan dan penyembahan kepada Allah, sekaligus menjadi sentral kegiatan dakwah beliau. Hal itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa jika ingin sukses dalam berjuang dan mencapai cita-cita, maka hendaklah memulainya dengan beribadah (bersujud). Sebab, sujud atau ibadah akan membuat seseorang memiliki keyakinan yang besar akan pertolongan dan bantuan Allah, sehingga kalaupun nanti dia menemui berbagai kesulitan dan tantangan dia akan tetap semangat menghadapinya. Kalaupun, nanti dia sukses maka kesuksesannya itu tidak menjadikannya lupa diri, sehingga muncul sikap sombong dan angkuh dalam dirinya. Karena, dia akan selalu sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah. Inilah yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah [9]: 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kelima:  Yang juga dilakukan nabi setelah sampai di Madinah adalah mepersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (penduduk asli). Sehingga, umat Islam ketika itu sudah menjadi sebuah kesatuan dan memiliki kekuatan yang menjadi cikal bakal kesuksesan dakwah dan perjuangan menegakan kalimat Tauhid di kemudian hari. Melalui hal itu, Rasulullah ingin mengatakan kepada umatnya tentang pentingnya kebersamaan persatuan dalam mencapai suatu maksud. Sebab, tidak akan ada kesuksesan tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Seseorang baru bisa menjadi “bos”, jika ada sebagian orang yang bersedia menjadi bawahannya. Begitulah seterusnya.
Keenam, Hal lain yang dibangun nabi Mauhammad ketika sampai di Madinah adalah pasar sebagai basis ekonomi umat Islam ketika itu. Kenapa Rasulullah saw. membangun pasar? Sebab, apapun bentuknya perjuangan manusia, apalagi dakwah mengajak manusia ke jalan Tuhan, perlu didukung oleh kekuatan ekonomi. Jika ekonomi umat Islam ini bagus, tentulah dakwah akan bisa dijalankan dengan maksimal dan agaknya secara otomatis tingkat keberagamaan umat Islam akan lebih bagus. Bukankah Ali pernah bersabda, “Kefakiran sangat dekat dengan kekukufuran”.
Itulah di antara hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Semoga bisa menjadi pelaran bagi kita. Amin.
Hijrah Nabi Ke Madinah
  1. Rencana-rencana jahat kafir Quraisy terhadap diri Nabi Muhammad dan kaum Muslimin diantaranya,
     2.   Fitnah tentang Nabi Muhammad dituduh juru penerang yang memecah belah masyarakat
  1. Abu Jahal sangat memusuhi Nabi Muhammad sehingga dia ingin membunuhnya
  2. Kaum Muslimin yang di Makkah dikucilkan oleh masyarakat Makkah selama tiga tahun.
Melihat kenyataan seperti itu akhirnya nabi memandang bahwa kota Makkah tidak dapat dijadikan lagi pusat dakwah. Karena itu, Nabi pernah mengunjungi beberapa negeri seperti Thaif, untuk dijadikan sebagai tempat pusat dakwah, namun ternyata tidak bisa, karena penduduk Thaif juga memusuhi Nabi. Oleh karena itu, Nabi memilih kota Madinah ( Yastrib ) sebagai tempat hijrah kaum Muslimin, dikarenakan beberapa faktor antara lain :
  1. Madinah adalah tempat yang paling dekat dengan Makkah
  2. Sebelum jadi Nabi, Muhammad telah mempunyai hubungan yang baik dengan penduduk madinah karena kakek nabi, Abdul Mutholib, mempunyai istri orang Madinah
  3. Penduduk Madinah sudah dikenal Nabi bahwa mereka memiiki sifat yang lemah lembut
  4. Nabi Muhammad SAW mempunyai kerabat di madinah yaitu bani Nadjar
  5. Bagi diri Nabi sendiri, hijrah ke Madinah karena perintah Allh SWT.
Pada tahun ke-13 sesudah Nabi Muhammad diutus, 73 orang penduduk Madinah berkunjung ke Makkah untuk mengunjungi Nabi dan meminta beliau agar pindah ke Madinah. Dikarenakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penduduk Madinah mudah menerima ajaran Islam yaitu :
  1. Bangsa arab Yastrtib lebih memahami agama-agama ketuhanan Karena mereka sering mendengar tentang Allah, wahyu, kubur, hisab, berbangkit, surga dan neraka.
  2. Penduduk Yastrib memerlukan seorang pemimpin yang mampu mempersatukan suku-suku yang saling bermusuhan.
Pemuda-pemuda  yang  sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnyamalam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akanlari.  Pada  malam  akan  hijrah itu pula Muhammad membisikkankepada Ali b. Abi Talib supaya memakai  mantelnya  yang  hijaudari  Hadzramaut  dan  supaya  berbaring  di  tempat tidurnya.Dimintanya supaya sepeninggalnya  nanti  ia  tinggal  dulu  di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkankepadanya. Dalam pada itu pemuda-pemuda yang  sudah  disiapkan
Quraisy,  dari  sebuah  celah  mengintip ke tempat tidur Nabi.Mereka melihat ada sesosok  tubuh  di  tempat  tidur  itu  danmerekapun puas bahwa dia belum lari
Tetapi,  menjelang  larut malam waktu itu, dengan tidak setahumereka Muhammad sudah keluar menuju ke
Rumah Abu  Bakar.  Keduaorang  itu  kemudian  keluar  dari jendela pintu belakang, danterus bertolak
ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa  tujuankedua  orang  itu  melalui  jalan sebelah kanan adalah 
di luardugaan.Sementaraitu pihak  Quraisy  berusaha  sungguh-sungguh  mencari  merekatanpa  mengenal 
lelah.  Betapa  tidak.  Mereka melihat bahayasangat mengancam mereka kalau mereka tidak  berhasil   
menyusulMuhammad  dan  mencegahnya  berhubungan  dengan pihak Yastrib.
 
Sepasukan orang kafir telah sampai di depan goa Tsur. Mereka mendapati adanya sarang laba-laba di mulut goa. Mereka pun berkesimpulan bahwa Rasulullah (SAW) tidak masuk kedalam goa, sebab jika beliau (SAW) memasuki goa maka tentu sarang laba-laba itu telah rusak. Sekelompok yang lain, juga sampai di mulut goa itu dan mendapati sebuah sarang burung lengkap dengan beberapa butir telur burung yang berada tepat di mulut goa Tsur. Mereka pun berkesimpulan bahwa Rasulullah (SAW) tidak pernah masuk kedalam goa ini, sebab jika hal itu terjadi maka tentulah jaring laba-laba dan sarang burung itu sudah tidak lagi berada pada tempatnya.
Tiada seorang  yang  mengetahui  tempat  persembunyian  merekadalam  gua  itu  selain 
 Abdullah bin Abu Bakar, dan kedua orangputerinya Aisyah dan Asma,  serta  pembantu 
 mereka  'Amir  bin Fuhaira.  Tugas  Abdullah  hari-hari  berada  di tengah-tengahQuraisy   sambil  
 mendengar-dengarkan   permufakatan   merekaterhadap   Muhammad,   yang   pada   malam   harinya 
 kemudiandisampaikannya kepada Nabi dan kepada  ayahnya.  Sedang  'Amirtugasnya    menggembalakan  
  kambing    milik Abu   Bakar'   sorenyadiistirahatkan, kemudian mereka memerah  susu  dan  
 menyiapkandaging.  Apabila  Abdullah  bin  Abu  Bakar  keluar kembali daritempat mereka, datang 
 'Amir  mengikutinya  dengan  kambingnyaguna menghapus jejaknya.
 
Rasullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) tinggal di dalam goa Tsur pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. 
Pada hari ketiga, mereka berdua sudah mengetahui bahwa situasi sudah tenang kembali mengenai 
diri mereka. Orang yang disewa sebagai penunjuk jalan datang membawakan unta kedua orang itu 
serta untanya sendiri. Asma puteri Abu Bakar juga datang membawakan makanan. Oleh karena
 ketika mereka akan berangkat tidak ada sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan 
dan minuman pada pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya 
dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itulah dia diberi nama 
“dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua).
Mereka berangkat dan melanjutkan perjalanan dengan perbekalan yang diberikan oleh putrinya. 
Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti mereka maka 
dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi Muhammad dan Abu Bakar mengambil jalan yang tidak pernah 
dilalui manusia. Abdullah bin Uraiqit dari Banu Du’il sebagai penunjuk jalan, membawa mereka 
hati-hati sekali ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai 
Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh orang, penunjuk 
jalan membawa mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya,
 mengambil jalan yang paling sedikit dilalui orang.
Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas
 kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan dan rasa lelah. Mereka hanya percaya bahwa
 Allah akan menolong mereka.
Orang Quraisy mengadakan sayembara bagi siapa saja yang dapat mengembalikan mereka berdua atau dapat menunjukkan tempat mereka maka hadiah dan kehormatan menantinya. Wajar sekali hal ini menarik hati masyarakat pada waktu itu. Tidak lama setelah sayembara diadakan, tersiar kabar bahwa ada seseorang yang melihat serombongan dengan tiga unta. Ternyata dugaan mereka tidak meleset dan mereka adalah mangsa yang selama ini mereka cari. Waktu itu Suraqa bin Malik bin Ju’syum hadir dan mengatakan mungkin mereka keluarga si fulan dengan maksud mengelabui orang itu, sebab dia sendiri ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tidak lama kemudian Suraqa bin Ju’yum mendatangi tempat yang dimaksud dan dia menemukan Nabi Muhammad beserta kedua temannya sedang beristirahat di bawah naungan sebuah batu besar embari menyantap bekal yang diberikan oleh asma, putri Abu bakar. Pada saat itu, kekuasaan Allah ditunjukkan. Setiap kali Suraqa bin Ju’syum mendekati rombongan Nabi Muhammad kudanya selalu tersungkur. Hal itu berulang sampai empat kali. Suraqa yang percaya kepada dewa berfikir bahwa itu adalah pertanda buruk sehingga dia mengurungkan niatnya dan kembali ke Mekah dengan membawa pesan tertulis yang ditulis Abu Bakar. Surat itu berisi supaya jika ada yang ingin mengejar muhajir besar itu untuk dikaburkan.
Muhammad dan kawannya itu kini berangkat lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir Sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari letupan panas tengah hari, tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau dari yang akan menyerbu mereka tiba-tiba, selain dari ketabahan hati dan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan.
Selama tujuh hari terus-menerus mereka berjalan. Mereka hanya beristirahat di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir. Hanya karena adanya ketenangan hati kepada Allah dan adanya kedip bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Mereka selalu yakin jika allah akan selalu bersama mereka.
Jarak mereka dengan Yastrib kini sudah dekat sekali.
Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi Muhammad dan sahabatnya sudah tersiar di Yastrib. Penduduk kota sudah mengetahui betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari kaum Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu, semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka yang belum pernah melihatnya meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka semakin rindu ingin bertemu. Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yatsrib yang sebelum itu belum pernah melihat Nabi Muhammad sudah menjadi pengikutnya hanya karena mendengar dari sahabat-sahabatnya saja.
Sementara kaum Muslimin Yastrib menunggu kedatangan Nabi Muhammad, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang sudah mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu berteriak kepada mereka (muslim Yastrib). “Hai, Banu Qaila ini dia kawan kamu datang!”. Nabi Muhammad sampai di Yastrib pada hari Jum’at. Nabi Muhammad pun melakukan shalat jum’at di Yastrib. Masjid yang terletak di perut Wadi Ranuna menjadi saki akan kedatangan Nabi Muhammad beserta sahabatnya. Kaum Muslimin dating dan masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.
Orang-orang terkemuka di Madinah menawarkan diri supaya dia tinggal di rumah mereka dengan segala persediaan dan persiapan yang ada. Tetapi dia meminta maaf kepada mereka dan kembali ke atas unta betinanya sembari memasangkan tali keluan pada untanya. Kemudian dia berangkat melalui jalan-jalan di Yastrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yastrib, baik Yahudi maupun orang-orang Pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka. Mereka menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama 15 tahun bermusuhan dan berperang. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka – pada saat ini, saat transisi sejarah yang akan menentukan tujuannya – akan memberikan kemegahan dan kebesaran bagi kota mereka selama sejarah ini berkembang.
Disela-sela berbagai permintaan untuk tinggal, Nabi Muhammad berpikir untuk adil sehingga dia membiarkan untanya itu berjalan kemana yang dia inginkan. Sesampainya di sebuah tempat penjemuran kurma, kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu’n-Najjar, unta itu berhenti. Pada saat itulah Nabi Muhammad turun dari untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. Mereka pun menjawab “Kepunyaan Sahl dan Suhail bin ‘Amr,” jawab Ma’adh bin  ‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Fakta ini membuat kaum muslimin Yastrib terkagum-kagum dengan keadilan-Nya. Setelah berincang-bincang Nabi Muhammad SAW meminta supaya di tempat untanya berhenti itu didirikan masjid dan tempat tinggalnya.
 Memetik Hikmah Hijrah
Dalam Islam ada tiga bentuk hijrah:
  1. Berpindah dari negeri yang penuh kesyirikan ke negeri Islam, seperti hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Makkah (negeri yg penuh kesyirikan kala itu) ke Madinah (negeri Islam).
  2. Berpindah dari Negeri yang menebar teror atau menakutkan ke negri yang aman, sepeti Hijrahnya Rasulullah dan sebagian sahabat ke Habasayah (Etopia).
  3. Meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebagaimana dijelasakan dalam sabad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

( اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ) رواه البخاري

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala ” (HR. Al Bukhari)
Hijrah adalah sebuah tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. Hijrah adalah peristiwa yang sangat menentukan bagi kesuksesan Rasulullah saw. mengemban risalah dalam rangka mengeluarkan manusia dari beraneka kegelapan menuju cahaya kebenaran. Sebelum peristiwa Hijrah terjadi, Rasulullah saw. telah berupya sekuat tenaga untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan. Akan tetapi, usaha beliau kurang membuahkan hasil kalau tidak akan dikatakan mengalamai kemandekan dan kegagalan. Berbagai macam tantangan dan cobaan dihadapi Rasulullah saw. selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Makkah. Keluhan Rasulullah saw. direkam oleh Allah swt. seperti diucapkan melalui lidah nabi Nuh as. dalam surat Nuh [71]: 5-7

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا(5)فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا(6)وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا(7)

Artinya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang (5). maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) (6). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat (7).”
Akhirnya, atas perintah Allah swt. Nabi saw. melakukan hijrah yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah. Dan ternyata, di Madinah Rasulullah saw. memperoleh kesuksesan besar dalam berdakwah mengembangkan agama Islam. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, seluruh jazirah Arab tunduk di bawah kekuasan Negara Islam yang berpusat di Madinah.
Ada banyak hikmah di balik peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Di antaranya;
Pertama, bahwa kegagalan tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa dalam berjuang mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Jika manusia mengalami kegagalan di suatu tempat, di sebuh metode dan cara, maka hendaklah dia mencari tempat, cara atau metode baru dalam mencapai kesuksesan.
Rahmat dan karunia Allah itu tersebar luar, allquran meyakikan.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ(87)

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf ayat 87)
 Kedua: semangat pengorbanan
Ketika akan hijrah, Abu Bakar ash-Shiddiq membeli dua ekor unta yang akan mereka kendarai menuju Madinah. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Saya telah membeli dua ekor unta untuk kendaraan kita menuju Madinah. Silahkan engkau pilih mana unta yang engkau sukai dari kedua unta ini!”. Rasulullah menjawab, “Tidak, saya tidak akan menaiki unta yang bukan milik saya”. “Unta ini adalah milik engkau yang Rasulullah, karena saya telah menghadiahkannya untukmu”. Jawab Abu Bakar.
Rasulullah tetap menolak untuk mengendarai unta tersebut, sebelum mengganti harganya seharga yang dibeli oleh Abu Bakar. Akhirnya, Abu Bakar mengalah dan menerima uang dari Rasulullah saw. sebanyak harga dia membeli unta tersebut.
Begitu pula Rasulullah saw bersama Abu Bakar sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau adalah mencari tempat di mana masjid akan dibangun. Setelah mendapatkan lahan yang tepat, pemilik tanah yang akan dijadikan tempat berdirinya masjid tersebut berkata, “Ya Rasulullah! Tanah ini saya wakafkan sebagai tempat pembangunan masjid”. Namun, Rasulullah menolak sambil berkata, “Saya akan membangun masjid di atas tanah yang saya beli dengan harta saya”. Akhirnya, pemilik tanah tersebut menjual tanah itu kepada Rasulullah untuk kemudian dijadikan tempat pembangunan masjid Nabi.
Dari kisah tersebut, ada hal yang ingin diajarkan Rasulullah kepada umatnya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar perlu ada pengorbanan. Tidak akan ada kesuksesan besar, tanpa adanya kesediaan untuk berkorban. Buknakah kta hijrah dan perjuangan selalu seringkali dikaitkan dengan pengorbanan harta bahkan nyawa? Lihatlah firman Allah dalam surat at-Taubah [9]: 20

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ketiga : Konsep pemahaman tawakal yang benar
Jika kita ingin belajar tawakal dengan benar maka lihatlah kisah hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menampakkan sikap tawakal dan mengambil sebab-sebabnya.
Dalam hijrah tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil sebelas sarana (rencana) yang menjadi sebab-sebab yang mengantarkan pada kemenangan dan keselamatan, beliau tidak meninggalkan planingnya sama sekali… beliau keluar dari rumahnya di akhir malam agar tidak diketahui oleh kaum kafir, kemudian beliau pergi ke rumah Abu Bakar di pertengahan siang hari, dimana Abu Bakar berkata, “Beliau mendatangi kami di waktu yang tidak biasanya beliau datang kepada kami” hal itu dilakukan untuk mengelabui kaum kafir.
Nabi pun mengabarkan perintah hijrah kepada Abu Bakar, maka keduanyapun keluar dari pintu belakang rumah, beliau mengambil jalan arah utara—padahal Madinah terletak di arah selatan— agar jejak keduanya tidak bisa dilacak oleh orang-orang musyrik yang menyisir jalan arah selatan ke kota Madinah. Kemudian keduanya bersembunyi di dalam goa Tsur selam tiga hari lebih dengan penuh kehati-hatian. Sementara Abdullah bin Abu Bakar bertugas sebagai informan yang membawa kabar tentang orang-orang Quraisy, sementara Asma bertugas membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.
Lihatlah sebuah perencanaan yang matang…tidak seorang quraisy pun yang dapat membaca perencanaan ini…sampai pada Asma binti Abu Bakar juga tidak seorang pun menyangka wanita ini yang kondisinya sedang hamil tujuh bulan….
Anda telah meyaksikan bagaimana perencanaan orang yang tawakal kepada Allah.
Lalu bagaimana dengan bekas-bekas jejak kaki Asma ini, Abu Bakar memerintahkan penggembala kambingnya, Abdullah bin Fahirah agar gembalaan kambing-kambingnya setiap hari melewati jalan yang biasa dilalui oleh Asma, seakan-akan memang dia menggemabla dan tidak ada satupun yang meragukannya.
Akan tetapi setelah perencanaan ini, apakah kaum kafir berhasil menyusul Rasulullah dan Abu Bakar?  Mereka nyaris menemukan keduanya dan mereka telah berdiri di mulut gua… mungkin dalam benak kita terbesit, tidak masuk akal setelah semua perencanaan matang ini kaum kafir  bisa mencapai tempat persembunyian keduanya?
Itu logika manusia… akan tetapi logika Allah Al Wakil sengaja menghendaki agar kaum kafir sampai di tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, untuk mengajarkan kepada Nabi dan kita semua arti tawakal kepada Allah, bahwa melakukan sebab-sebab itu wajib akan tetapi jangan mengatakan bahwa sebab-sebab itulah yang menyelamatkannya.
Kaum kafir dan musyrik sampai di depan mulut goa, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya pasti akan melihat kita.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab untuk menenangkannya, “Bagaimana menurutmu dengan dua orang semnetara Allah yang ketiganya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”
Inilah arti tawakal yang harus kita pelajari dan tanamkan di dalam jiwa kita untuk menghilangkan deprsi yang menguasai para pemuda usia dua puluh tahunan karena khawatir dengan masa depannya, serahkan dan pasrahkan kepada Allah, tawakallah kepada-Nya dan lakukanalah sebab-sebabnya. Dengan sikap lapang ini akan banyak problematika teratasi.
Begitulah cara yang paling tepat untuk bertawakal. Bahwa tawakal dilakukan setelah sebelumnya ada perancaan yang matang dan usaha yang maksimal, barulah kemudian menyerahkan hasil dan keputusannya kepada Allah. Jika tidak ada perencaaan dan usaha, maka tawakkal dalam hal ini adalah sesuatu yang keliru.
Keempat: ketika Nabi saw. telah sampai di Madinah, maka hal pertama yang dilakukan beliau adalah membangun Masjid sebagai tempat peribatan dan penyembahan kepada Allah, sekaligus menjadi sentral kegiatan dakwah beliau. Hal itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa jika ingin sukses dalam berjuang dan mencapai cita-cita, maka hendaklah memulainya dengan beribadah (bersujud). Sebab, sujud atau ibadah akan membuat seseorang memiliki keyakinan yang besar akan pertolongan dan bantuan Allah, sehingga kalaupun nanti dia menemui berbagai kesulitan dan tantangan dia akan tetap semangat menghadapinya. Kalaupun, nanti dia sukses maka kesuksesannya itu tidak menjadikannya lupa diri, sehingga muncul sikap sombong dan angkuh dalam dirinya. Karena, dia akan selalu sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah. Inilah yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah [9]: 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kelima:  Yang juga dilakukan nabi setelah sampai di Madinah adalah mepersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (penduduk asli). Sehingga, umat Islam ketika itu sudah menjadi sebuah kesatuan dan memiliki kekuatan yang menjadi cikal bakal kesuksesan dakwah dan perjuangan menegakan kalimat Tauhid di kemudian hari. Melalui hal itu, Rasulullah ingin mengatakan kepada umatnya tentang pentingnya kebersamaan persatuan dalam mencapai suatu maksud. Sebab, tidak akan ada kesuksesan tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Seseorang baru bisa menjadi “bos”, jika ada sebagian orang yang bersedia menjadi bawahannya. Begitulah seterusnya.
Keenam, Hal lain yang dibangun nabi Mauhammad ketika sampai di Madinah adalah pasar sebagai basis ekonomi umat Islam ketika itu. Kenapa Rasulullah saw. membangun pasar? Sebab, apapun bentuknya perjuangan manusia, apalagi dakwah mengajak manusia ke jalan Tuhan, perlu didukung oleh kekuatan ekonomi. Jika ekonomi umat Islam ini bagus, tentulah dakwah akan bisa dijalankan dengan maksimal dan agaknya secara otomatis tingkat keberagamaan umat Islam akan lebih bagus. Bukankah Ali pernah bersabda, “Kefakiran sangat dekat dengan kekukufuran”.
Itulah di antara hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Semoga bisa menjadi pelaran bagi kita. Amin.
http://solihatcollection2.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Selasa, 19 Maret 2013

Hikmah Hijrah Nabi Muhammad SAW

Memetik Hikmah Hijrah
Dalam Islam ada tiga bentuk hijrah:
  1. Berpindah dari negeri yang penuh kesyirikan ke negeri Islam, seperti hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Makkah (negeri yg penuh kesyirikan kala itu) ke Madinah (negeri Islam).
  2. Berpindah dari Negeri yang menebar teror atau menakutkan ke negri yang aman, sepeti Hijrahnya Rasulullah dan sebagian sahabat ke Habasayah (Etopia).
  3. Meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebagaimana dijelasakan dalam sabad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

( اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ) رواه البخاري

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala ” (HR. Al Bukhari)
Hijrah adalah sebuah tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. Hijrah adalah peristiwa yang sangat menentukan bagi kesuksesan Rasulullah saw. mengemban risalah dalam rangka mengeluarkan manusia dari beraneka kegelapan menuju cahaya kebenaran. Sebelum peristiwa Hijrah terjadi, Rasulullah saw. telah berupya sekuat tenaga untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan. Akan tetapi, usaha beliau kurang membuahkan hasil kalau tidak akan dikatakan mengalamai kemandekan dan kegagalan. Berbagai macam tantangan dan cobaan dihadapi Rasulullah saw. selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Makkah. Keluhan Rasulullah saw. direkam oleh Allah swt. seperti diucapkan melalui lidah nabi Nuh as. dalam surat Nuh [71]: 5-7

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا(5)فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا(6)وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا(7)

Artinya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang (5). maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) (6). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat (7).”
Akhirnya, atas perintah Allah swt. Nabi saw. melakukan hijrah yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah. Dan ternyata, di Madinah Rasulullah saw. memperoleh kesuksesan besar dalam berdakwah mengembangkan agama Islam. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, seluruh jazirah Arab tunduk di bawah kekuasan Negara Islam yang berpusat di Madinah.
Ada banyak hikmah di balik peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Di antaranya;
Pertama, bahwa kegagalan tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa dalam berjuang mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Jika manusia mengalami kegagalan di suatu tempat, di sebuh metode dan cara, maka hendaklah dia mencari tempat, cara atau metode baru dalam mencapai kesuksesan.
Rahmat dan karunia Allah itu tersebar luar, allquran meyakikan.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ(87)

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf ayat 87)
 Kedua: semangat pengorbanan
Ketika akan hijrah, Abu Bakar ash-Shiddiq membeli dua ekor unta yang akan mereka kendarai menuju Madinah. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Saya telah membeli dua ekor unta untuk kendaraan kita menuju Madinah. Silahkan engkau pilih mana unta yang engkau sukai dari kedua unta ini!”. Rasulullah menjawab, “Tidak, saya tidak akan menaiki unta yang bukan milik saya”. “Unta ini adalah milik engkau yang Rasulullah, karena saya telah menghadiahkannya untukmu”. Jawab Abu Bakar.
Rasulullah tetap menolak untuk mengendarai unta tersebut, sebelum mengganti harganya seharga yang dibeli oleh Abu Bakar. Akhirnya, Abu Bakar mengalah dan menerima uang dari Rasulullah saw. sebanyak harga dia membeli unta tersebut.
Begitu pula Rasulullah saw bersama Abu Bakar sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau adalah mencari tempat di mana masjid akan dibangun. Setelah mendapatkan lahan yang tepat, pemilik tanah yang akan dijadikan tempat berdirinya masjid tersebut berkata, “Ya Rasulullah! Tanah ini saya wakafkan sebagai tempat pembangunan masjid”. Namun, Rasulullah menolak sambil berkata, “Saya akan membangun masjid di atas tanah yang saya beli dengan harta saya”. Akhirnya, pemilik tanah tersebut menjual tanah itu kepada Rasulullah untuk kemudian dijadikan tempat pembangunan masjid Nabi.
Dari kisah tersebut, ada hal yang ingin diajarkan Rasulullah kepada umatnya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar perlu ada pengorbanan. Tidak akan ada kesuksesan besar, tanpa adanya kesediaan untuk berkorban. Buknakah kta hijrah dan perjuangan selalu seringkali dikaitkan dengan pengorbanan harta bahkan nyawa? Lihatlah firman Allah dalam surat at-Taubah [9]: 20

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ketiga : Konsep pemahaman tawakal yang benar
Jika kita ingin belajar tawakal dengan benar maka lihatlah kisah hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menampakkan sikap tawakal dan mengambil sebab-sebabnya.
Dalam hijrah tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil sebelas sarana (rencana) yang menjadi sebab-sebab yang mengantarkan pada kemenangan dan keselamatan, beliau tidak meninggalkan planingnya sama sekali… beliau keluar dari rumahnya di akhir malam agar tidak diketahui oleh kaum kafir, kemudian beliau pergi ke rumah Abu Bakar di pertengahan siang hari, dimana Abu Bakar berkata, “Beliau mendatangi kami di waktu yang tidak biasanya beliau datang kepada kami” hal itu dilakukan untuk mengelabui kaum kafir.
Nabi pun mengabarkan perintah hijrah kepada Abu Bakar, maka keduanyapun keluar dari pintu belakang rumah, beliau mengambil jalan arah utara—padahal Madinah terletak di arah selatan— agar jejak keduanya tidak bisa dilacak oleh orang-orang musyrik yang menyisir jalan arah selatan ke kota Madinah. Kemudian keduanya bersembunyi di dalam goa Tsur selam tiga hari lebih dengan penuh kehati-hatian. Sementara Abdullah bin Abu Bakar bertugas sebagai informan yang membawa kabar tentang orang-orang Quraisy, sementara Asma bertugas membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.
Lihatlah sebuah perencanaan yang matang…tidak seorang quraisy pun yang dapat membaca perencanaan ini…sampai pada Asma binti Abu Bakar juga tidak seorang pun menyangka wanita ini yang kondisinya sedang hamil tujuh bulan….
Anda telah meyaksikan bagaimana perencanaan orang yang tawakal kepada Allah.
Lalu bagaimana dengan bekas-bekas jejak kaki Asma ini, Abu Bakar memerintahkan penggembala kambingnya, Abdullah bin Fahirah agar gembalaan kambing-kambingnya setiap hari melewati jalan yang biasa dilalui oleh Asma, seakan-akan memang dia menggemabla dan tidak ada satupun yang meragukannya.
Akan tetapi setelah perencanaan ini, apakah kaum kafir berhasil menyusul Rasulullah dan Abu Bakar?  Mereka nyaris menemukan keduanya dan mereka telah berdiri di mulut gua… mungkin dalam benak kita terbesit, tidak masuk akal setelah semua perencanaan matang ini kaum kafir  bisa mencapai tempat persembunyian keduanya?
Itu logika manusia… akan tetapi logika Allah Al Wakil sengaja menghendaki agar kaum kafir sampai di tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, untuk mengajarkan kepada Nabi dan kita semua arti tawakal kepada Allah, bahwa melakukan sebab-sebab itu wajib akan tetapi jangan mengatakan bahwa sebab-sebab itulah yang menyelamatkannya.
Kaum kafir dan musyrik sampai di depan mulut goa, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya pasti akan melihat kita.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab untuk menenangkannya, “Bagaimana menurutmu dengan dua orang semnetara Allah yang ketiganya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”
Inilah arti tawakal yang harus kita pelajari dan tanamkan di dalam jiwa kita untuk menghilangkan deprsi yang menguasai para pemuda usia dua puluh tahunan karena khawatir dengan masa depannya, serahkan dan pasrahkan kepada Allah, tawakallah kepada-Nya dan lakukanalah sebab-sebabnya. Dengan sikap lapang ini akan banyak problematika teratasi.
Begitulah cara yang paling tepat untuk bertawakal. Bahwa tawakal dilakukan setelah sebelumnya ada perancaan yang matang dan usaha yang maksimal, barulah kemudian menyerahkan hasil dan keputusannya kepada Allah. Jika tidak ada perencaaan dan usaha, maka tawakkal dalam hal ini adalah sesuatu yang keliru.
Keempat: ketika Nabi saw. telah sampai di Madinah, maka hal pertama yang dilakukan beliau adalah membangun Masjid sebagai tempat peribatan dan penyembahan kepada Allah, sekaligus menjadi sentral kegiatan dakwah beliau. Hal itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa jika ingin sukses dalam berjuang dan mencapai cita-cita, maka hendaklah memulainya dengan beribadah (bersujud). Sebab, sujud atau ibadah akan membuat seseorang memiliki keyakinan yang besar akan pertolongan dan bantuan Allah, sehingga kalaupun nanti dia menemui berbagai kesulitan dan tantangan dia akan tetap semangat menghadapinya. Kalaupun, nanti dia sukses maka kesuksesannya itu tidak menjadikannya lupa diri, sehingga muncul sikap sombong dan angkuh dalam dirinya. Karena, dia akan selalu sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah. Inilah yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah [9]: 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kelima:  Yang juga dilakukan nabi setelah sampai di Madinah adalah mepersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (penduduk asli). Sehingga, umat Islam ketika itu sudah menjadi sebuah kesatuan dan memiliki kekuatan yang menjadi cikal bakal kesuksesan dakwah dan perjuangan menegakan kalimat Tauhid di kemudian hari. Melalui hal itu, Rasulullah ingin mengatakan kepada umatnya tentang pentingnya kebersamaan persatuan dalam mencapai suatu maksud. Sebab, tidak akan ada kesuksesan tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Seseorang baru bisa menjadi “bos”, jika ada sebagian orang yang bersedia menjadi bawahannya. Begitulah seterusnya.
Keenam, Hal lain yang dibangun nabi Mauhammad ketika sampai di Madinah adalah pasar sebagai basis ekonomi umat Islam ketika itu. Kenapa Rasulullah saw. membangun pasar? Sebab, apapun bentuknya perjuangan manusia, apalagi dakwah mengajak manusia ke jalan Tuhan, perlu didukung oleh kekuatan ekonomi. Jika ekonomi umat Islam ini bagus, tentulah dakwah akan bisa dijalankan dengan maksimal dan agaknya secara otomatis tingkat keberagamaan umat Islam akan lebih bagus. Bukankah Ali pernah bersabda, “Kefakiran sangat dekat dengan kekukufuran”.
Itulah di antara hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Semoga bisa menjadi pelaran bagi kita. Amin.
Hijrah Nabi Ke Madinah
  1. Rencana-rencana jahat kafir Quraisy terhadap diri Nabi Muhammad dan kaum Muslimin diantaranya,
     2.   Fitnah tentang Nabi Muhammad dituduh juru penerang yang memecah belah masyarakat
  1. Abu Jahal sangat memusuhi Nabi Muhammad sehingga dia ingin membunuhnya
  2. Kaum Muslimin yang di Makkah dikucilkan oleh masyarakat Makkah selama tiga tahun.
Melihat kenyataan seperti itu akhirnya nabi memandang bahwa kota Makkah tidak dapat dijadikan lagi pusat dakwah. Karena itu, Nabi pernah mengunjungi beberapa negeri seperti Thaif, untuk dijadikan sebagai tempat pusat dakwah, namun ternyata tidak bisa, karena penduduk Thaif juga memusuhi Nabi. Oleh karena itu, Nabi memilih kota Madinah ( Yastrib ) sebagai tempat hijrah kaum Muslimin, dikarenakan beberapa faktor antara lain :
  1. Madinah adalah tempat yang paling dekat dengan Makkah
  2. Sebelum jadi Nabi, Muhammad telah mempunyai hubungan yang baik dengan penduduk madinah karena kakek nabi, Abdul Mutholib, mempunyai istri orang Madinah
  3. Penduduk Madinah sudah dikenal Nabi bahwa mereka memiiki sifat yang lemah lembut
  4. Nabi Muhammad SAW mempunyai kerabat di madinah yaitu bani Nadjar
  5. Bagi diri Nabi sendiri, hijrah ke Madinah karena perintah Allh SWT.
Pada tahun ke-13 sesudah Nabi Muhammad diutus, 73 orang penduduk Madinah berkunjung ke Makkah untuk mengunjungi Nabi dan meminta beliau agar pindah ke Madinah. Dikarenakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penduduk Madinah mudah menerima ajaran Islam yaitu :
  1. Bangsa arab Yastrtib lebih memahami agama-agama ketuhanan Karena mereka sering mendengar tentang Allah, wahyu, kubur, hisab, berbangkit, surga dan neraka.
  2. Penduduk Yastrib memerlukan seorang pemimpin yang mampu mempersatukan suku-suku yang saling bermusuhan.
Pemuda-pemuda  yang  sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnyamalam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akanlari.  Pada  malam  akan  hijrah itu pula Muhammad membisikkankepada Ali b. Abi Talib supaya memakai  mantelnya  yang  hijaudari  Hadzramaut  dan  supaya  berbaring  di  tempat tidurnya.Dimintanya supaya sepeninggalnya  nanti  ia  tinggal  dulu  di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkankepadanya. Dalam pada itu pemuda-pemuda yang  sudah  disiapkan
Quraisy,  dari  sebuah  celah  mengintip ke tempat tidur Nabi.Mereka melihat ada sesosok  tubuh  di  tempat  tidur  itu  danmerekapun puas bahwa dia belum lari
Tetapi,  menjelang  larut malam waktu itu, dengan tidak setahumereka Muhammad sudah keluar menuju ke
Rumah Abu  Bakar.  Keduaorang  itu  kemudian  keluar  dari jendela pintu belakang, danterus bertolak
ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa  tujuankedua  orang  itu  melalui  jalan sebelah kanan adalah 
di luardugaan.Sementaraitu pihak  Quraisy  berusaha  sungguh-sungguh  mencari  merekatanpa  mengenal 
lelah.  Betapa  tidak.  Mereka melihat bahayasangat mengancam mereka kalau mereka tidak  berhasil   
menyusulMuhammad  dan  mencegahnya  berhubungan  dengan pihak Yastrib.
 
Sepasukan orang kafir telah sampai di depan goa Tsur. Mereka mendapati adanya sarang laba-laba di mulut goa. Mereka pun berkesimpulan bahwa Rasulullah (SAW) tidak masuk kedalam goa, sebab jika beliau (SAW) memasuki goa maka tentu sarang laba-laba itu telah rusak. Sekelompok yang lain, juga sampai di mulut goa itu dan mendapati sebuah sarang burung lengkap dengan beberapa butir telur burung yang berada tepat di mulut goa Tsur. Mereka pun berkesimpulan bahwa Rasulullah (SAW) tidak pernah masuk kedalam goa ini, sebab jika hal itu terjadi maka tentulah jaring laba-laba dan sarang burung itu sudah tidak lagi berada pada tempatnya.
Tiada seorang  yang  mengetahui  tempat  persembunyian  merekadalam  gua  itu  selain 
 Abdullah bin Abu Bakar, dan kedua orangputerinya Aisyah dan Asma,  serta  pembantu 
 mereka  'Amir  bin Fuhaira.  Tugas  Abdullah  hari-hari  berada  di tengah-tengahQuraisy   sambil  
 mendengar-dengarkan   permufakatan   merekaterhadap   Muhammad,   yang   pada   malam   harinya 
 kemudiandisampaikannya kepada Nabi dan kepada  ayahnya.  Sedang  'Amirtugasnya    menggembalakan  
  kambing    milik Abu   Bakar'   sorenyadiistirahatkan, kemudian mereka memerah  susu  dan  
 menyiapkandaging.  Apabila  Abdullah  bin  Abu  Bakar  keluar kembali daritempat mereka, datang 
 'Amir  mengikutinya  dengan  kambingnyaguna menghapus jejaknya.
 
Rasullah (SAW) dan Abu Bakar (RA) tinggal di dalam goa Tsur pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. 
Pada hari ketiga, mereka berdua sudah mengetahui bahwa situasi sudah tenang kembali mengenai 
diri mereka. Orang yang disewa sebagai penunjuk jalan datang membawakan unta kedua orang itu 
serta untanya sendiri. Asma puteri Abu Bakar juga datang membawakan makanan. Oleh karena
 ketika mereka akan berangkat tidak ada sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan 
dan minuman pada pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya 
dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itulah dia diberi nama 
“dhat’n-nitaqain” (yang bersabuk dua).
Mereka berangkat dan melanjutkan perjalanan dengan perbekalan yang diberikan oleh putrinya. 
Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti mereka maka 
dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi Muhammad dan Abu Bakar mengambil jalan yang tidak pernah 
dilalui manusia. Abdullah bin Uraiqit dari Banu Du’il sebagai penunjuk jalan, membawa mereka 
hati-hati sekali ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai 
Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh orang, penunjuk 
jalan membawa mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya,
 mengambil jalan yang paling sedikit dilalui orang.
Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas
 kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan dan rasa lelah. Mereka hanya percaya bahwa
 Allah akan menolong mereka.
Orang Quraisy mengadakan sayembara bagi siapa saja yang dapat mengembalikan mereka berdua atau dapat menunjukkan tempat mereka maka hadiah dan kehormatan menantinya. Wajar sekali hal ini menarik hati masyarakat pada waktu itu. Tidak lama setelah sayembara diadakan, tersiar kabar bahwa ada seseorang yang melihat serombongan dengan tiga unta. Ternyata dugaan mereka tidak meleset dan mereka adalah mangsa yang selama ini mereka cari. Waktu itu Suraqa bin Malik bin Ju’syum hadir dan mengatakan mungkin mereka keluarga si fulan dengan maksud mengelabui orang itu, sebab dia sendiri ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tidak lama kemudian Suraqa bin Ju’yum mendatangi tempat yang dimaksud dan dia menemukan Nabi Muhammad beserta kedua temannya sedang beristirahat di bawah naungan sebuah batu besar embari menyantap bekal yang diberikan oleh asma, putri Abu bakar. Pada saat itu, kekuasaan Allah ditunjukkan. Setiap kali Suraqa bin Ju’syum mendekati rombongan Nabi Muhammad kudanya selalu tersungkur. Hal itu berulang sampai empat kali. Suraqa yang percaya kepada dewa berfikir bahwa itu adalah pertanda buruk sehingga dia mengurungkan niatnya dan kembali ke Mekah dengan membawa pesan tertulis yang ditulis Abu Bakar. Surat itu berisi supaya jika ada yang ingin mengejar muhajir besar itu untuk dikaburkan.
Muhammad dan kawannya itu kini berangkat lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir Sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari letupan panas tengah hari, tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau dari yang akan menyerbu mereka tiba-tiba, selain dari ketabahan hati dan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan.
Selama tujuh hari terus-menerus mereka berjalan. Mereka hanya beristirahat di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir. Hanya karena adanya ketenangan hati kepada Allah dan adanya kedip bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman. Mereka selalu yakin jika allah akan selalu bersama mereka.
Jarak mereka dengan Yastrib kini sudah dekat sekali.
Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi Muhammad dan sahabatnya sudah tersiar di Yastrib. Penduduk kota sudah mengetahui betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari kaum Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu, semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka yang belum pernah melihatnya meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka semakin rindu ingin bertemu. Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yatsrib yang sebelum itu belum pernah melihat Nabi Muhammad sudah menjadi pengikutnya hanya karena mendengar dari sahabat-sahabatnya saja.
Sementara kaum Muslimin Yastrib menunggu kedatangan Nabi Muhammad, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang sudah mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu berteriak kepada mereka (muslim Yastrib). “Hai, Banu Qaila ini dia kawan kamu datang!”. Nabi Muhammad sampai di Yastrib pada hari Jum’at. Nabi Muhammad pun melakukan shalat jum’at di Yastrib. Masjid yang terletak di perut Wadi Ranuna menjadi saki akan kedatangan Nabi Muhammad beserta sahabatnya. Kaum Muslimin dating dan masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.
Orang-orang terkemuka di Madinah menawarkan diri supaya dia tinggal di rumah mereka dengan segala persediaan dan persiapan yang ada. Tetapi dia meminta maaf kepada mereka dan kembali ke atas unta betinanya sembari memasangkan tali keluan pada untanya. Kemudian dia berangkat melalui jalan-jalan di Yastrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yastrib, baik Yahudi maupun orang-orang Pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka. Mereka menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama 15 tahun bermusuhan dan berperang. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka – pada saat ini, saat transisi sejarah yang akan menentukan tujuannya – akan memberikan kemegahan dan kebesaran bagi kota mereka selama sejarah ini berkembang.
Disela-sela berbagai permintaan untuk tinggal, Nabi Muhammad berpikir untuk adil sehingga dia membiarkan untanya itu berjalan kemana yang dia inginkan. Sesampainya di sebuah tempat penjemuran kurma, kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu’n-Najjar, unta itu berhenti. Pada saat itulah Nabi Muhammad turun dari untanya dan bertanya: “Kepunyaan siapa tempat ini?” tanyanya. Mereka pun menjawab “Kepunyaan Sahl dan Suhail bin ‘Amr,” jawab Ma’adh bin  ‘Afra’. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Fakta ini membuat kaum muslimin Yastrib terkagum-kagum dengan keadilan-Nya. Setelah berincang-bincang Nabi Muhammad SAW meminta supaya di tempat untanya berhenti itu didirikan masjid dan tempat tinggalnya.
 Memetik Hikmah Hijrah
Dalam Islam ada tiga bentuk hijrah:
  1. Berpindah dari negeri yang penuh kesyirikan ke negeri Islam, seperti hijrah Rasulullah dan para sahabat dari Makkah (negeri yg penuh kesyirikan kala itu) ke Madinah (negeri Islam).
  2. Berpindah dari Negeri yang menebar teror atau menakutkan ke negri yang aman, sepeti Hijrahnya Rasulullah dan sebagian sahabat ke Habasayah (Etopia).
  3. Meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebagaimana dijelasakan dalam sabad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

( اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ) رواه البخاري

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala ” (HR. Al Bukhari)
Hijrah adalah sebuah tonggak sejarah besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw. Hijrah adalah peristiwa yang sangat menentukan bagi kesuksesan Rasulullah saw. mengemban risalah dalam rangka mengeluarkan manusia dari beraneka kegelapan menuju cahaya kebenaran. Sebelum peristiwa Hijrah terjadi, Rasulullah saw. telah berupya sekuat tenaga untuk mengajak manusia ke jalan Tuhan. Akan tetapi, usaha beliau kurang membuahkan hasil kalau tidak akan dikatakan mengalamai kemandekan dan kegagalan. Berbagai macam tantangan dan cobaan dihadapi Rasulullah saw. selama kurang lebih tiga belas tahun berdakwah di Makkah. Keluhan Rasulullah saw. direkam oleh Allah swt. seperti diucapkan melalui lidah nabi Nuh as. dalam surat Nuh [71]: 5-7

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا(5)فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا(6)وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا(7)

Artinya: “Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang (5). maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran) (6). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat (7).”
Akhirnya, atas perintah Allah swt. Nabi saw. melakukan hijrah yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah. Dan ternyata, di Madinah Rasulullah saw. memperoleh kesuksesan besar dalam berdakwah mengembangkan agama Islam. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, seluruh jazirah Arab tunduk di bawah kekuasan Negara Islam yang berpusat di Madinah.
Ada banyak hikmah di balik peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Di antaranya;
Pertama, bahwa kegagalan tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa dalam berjuang mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan. Jika manusia mengalami kegagalan di suatu tempat, di sebuh metode dan cara, maka hendaklah dia mencari tempat, cara atau metode baru dalam mencapai kesuksesan.
Rahmat dan karunia Allah itu tersebar luar, allquran meyakikan.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ(87)

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf ayat 87)
 Kedua: semangat pengorbanan
Ketika akan hijrah, Abu Bakar ash-Shiddiq membeli dua ekor unta yang akan mereka kendarai menuju Madinah. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Saya telah membeli dua ekor unta untuk kendaraan kita menuju Madinah. Silahkan engkau pilih mana unta yang engkau sukai dari kedua unta ini!”. Rasulullah menjawab, “Tidak, saya tidak akan menaiki unta yang bukan milik saya”. “Unta ini adalah milik engkau yang Rasulullah, karena saya telah menghadiahkannya untukmu”. Jawab Abu Bakar.
Rasulullah tetap menolak untuk mengendarai unta tersebut, sebelum mengganti harganya seharga yang dibeli oleh Abu Bakar. Akhirnya, Abu Bakar mengalah dan menerima uang dari Rasulullah saw. sebanyak harga dia membeli unta tersebut.
Begitu pula Rasulullah saw bersama Abu Bakar sampai di Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau adalah mencari tempat di mana masjid akan dibangun. Setelah mendapatkan lahan yang tepat, pemilik tanah yang akan dijadikan tempat berdirinya masjid tersebut berkata, “Ya Rasulullah! Tanah ini saya wakafkan sebagai tempat pembangunan masjid”. Namun, Rasulullah menolak sambil berkata, “Saya akan membangun masjid di atas tanah yang saya beli dengan harta saya”. Akhirnya, pemilik tanah tersebut menjual tanah itu kepada Rasulullah untuk kemudian dijadikan tempat pembangunan masjid Nabi.
Dari kisah tersebut, ada hal yang ingin diajarkan Rasulullah kepada umatnya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang besar perlu ada pengorbanan. Tidak akan ada kesuksesan besar, tanpa adanya kesediaan untuk berkorban. Buknakah kta hijrah dan perjuangan selalu seringkali dikaitkan dengan pengorbanan harta bahkan nyawa? Lihatlah firman Allah dalam surat at-Taubah [9]: 20

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ketiga : Konsep pemahaman tawakal yang benar
Jika kita ingin belajar tawakal dengan benar maka lihatlah kisah hijrah Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menampakkan sikap tawakal dan mengambil sebab-sebabnya.
Dalam hijrah tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengambil sebelas sarana (rencana) yang menjadi sebab-sebab yang mengantarkan pada kemenangan dan keselamatan, beliau tidak meninggalkan planingnya sama sekali… beliau keluar dari rumahnya di akhir malam agar tidak diketahui oleh kaum kafir, kemudian beliau pergi ke rumah Abu Bakar di pertengahan siang hari, dimana Abu Bakar berkata, “Beliau mendatangi kami di waktu yang tidak biasanya beliau datang kepada kami” hal itu dilakukan untuk mengelabui kaum kafir.
Nabi pun mengabarkan perintah hijrah kepada Abu Bakar, maka keduanyapun keluar dari pintu belakang rumah, beliau mengambil jalan arah utara—padahal Madinah terletak di arah selatan— agar jejak keduanya tidak bisa dilacak oleh orang-orang musyrik yang menyisir jalan arah selatan ke kota Madinah. Kemudian keduanya bersembunyi di dalam goa Tsur selam tiga hari lebih dengan penuh kehati-hatian. Sementara Abdullah bin Abu Bakar bertugas sebagai informan yang membawa kabar tentang orang-orang Quraisy, sementara Asma bertugas membawakan makanan dan minuman kepada keduanya.
Lihatlah sebuah perencanaan yang matang…tidak seorang quraisy pun yang dapat membaca perencanaan ini…sampai pada Asma binti Abu Bakar juga tidak seorang pun menyangka wanita ini yang kondisinya sedang hamil tujuh bulan….
Anda telah meyaksikan bagaimana perencanaan orang yang tawakal kepada Allah.
Lalu bagaimana dengan bekas-bekas jejak kaki Asma ini, Abu Bakar memerintahkan penggembala kambingnya, Abdullah bin Fahirah agar gembalaan kambing-kambingnya setiap hari melewati jalan yang biasa dilalui oleh Asma, seakan-akan memang dia menggemabla dan tidak ada satupun yang meragukannya.
Akan tetapi setelah perencanaan ini, apakah kaum kafir berhasil menyusul Rasulullah dan Abu Bakar?  Mereka nyaris menemukan keduanya dan mereka telah berdiri di mulut gua… mungkin dalam benak kita terbesit, tidak masuk akal setelah semua perencanaan matang ini kaum kafir  bisa mencapai tempat persembunyian keduanya?
Itu logika manusia… akan tetapi logika Allah Al Wakil sengaja menghendaki agar kaum kafir sampai di tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, untuk mengajarkan kepada Nabi dan kita semua arti tawakal kepada Allah, bahwa melakukan sebab-sebab itu wajib akan tetapi jangan mengatakan bahwa sebab-sebab itulah yang menyelamatkannya.
Kaum kafir dan musyrik sampai di depan mulut goa, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya pasti akan melihat kita.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab untuk menenangkannya, “Bagaimana menurutmu dengan dua orang semnetara Allah yang ketiganya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”
Inilah arti tawakal yang harus kita pelajari dan tanamkan di dalam jiwa kita untuk menghilangkan deprsi yang menguasai para pemuda usia dua puluh tahunan karena khawatir dengan masa depannya, serahkan dan pasrahkan kepada Allah, tawakallah kepada-Nya dan lakukanalah sebab-sebabnya. Dengan sikap lapang ini akan banyak problematika teratasi.
Begitulah cara yang paling tepat untuk bertawakal. Bahwa tawakal dilakukan setelah sebelumnya ada perancaan yang matang dan usaha yang maksimal, barulah kemudian menyerahkan hasil dan keputusannya kepada Allah. Jika tidak ada perencaaan dan usaha, maka tawakkal dalam hal ini adalah sesuatu yang keliru.
Keempat: ketika Nabi saw. telah sampai di Madinah, maka hal pertama yang dilakukan beliau adalah membangun Masjid sebagai tempat peribatan dan penyembahan kepada Allah, sekaligus menjadi sentral kegiatan dakwah beliau. Hal itu memberikan pelajaran kepada kita, bahwa jika ingin sukses dalam berjuang dan mencapai cita-cita, maka hendaklah memulainya dengan beribadah (bersujud). Sebab, sujud atau ibadah akan membuat seseorang memiliki keyakinan yang besar akan pertolongan dan bantuan Allah, sehingga kalaupun nanti dia menemui berbagai kesulitan dan tantangan dia akan tetap semangat menghadapinya. Kalaupun, nanti dia sukses maka kesuksesannya itu tidak menjadikannya lupa diri, sehingga muncul sikap sombong dan angkuh dalam dirinya. Karena, dia akan selalu sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah. Inilah yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah [9]: 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kelima:  Yang juga dilakukan nabi setelah sampai di Madinah adalah mepersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang) dan Anshar (penduduk asli). Sehingga, umat Islam ketika itu sudah menjadi sebuah kesatuan dan memiliki kekuatan yang menjadi cikal bakal kesuksesan dakwah dan perjuangan menegakan kalimat Tauhid di kemudian hari. Melalui hal itu, Rasulullah ingin mengatakan kepada umatnya tentang pentingnya kebersamaan persatuan dalam mencapai suatu maksud. Sebab, tidak akan ada kesuksesan tanpa bantuan dan keikutsertaan pihak lain. Seseorang baru bisa menjadi “bos”, jika ada sebagian orang yang bersedia menjadi bawahannya. Begitulah seterusnya.
Keenam, Hal lain yang dibangun nabi Mauhammad ketika sampai di Madinah adalah pasar sebagai basis ekonomi umat Islam ketika itu. Kenapa Rasulullah saw. membangun pasar? Sebab, apapun bentuknya perjuangan manusia, apalagi dakwah mengajak manusia ke jalan Tuhan, perlu didukung oleh kekuatan ekonomi. Jika ekonomi umat Islam ini bagus, tentulah dakwah akan bisa dijalankan dengan maksimal dan agaknya secara otomatis tingkat keberagamaan umat Islam akan lebih bagus. Bukankah Ali pernah bersabda, “Kefakiran sangat dekat dengan kekukufuran”.
Itulah di antara hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Semoga bisa menjadi pelaran bagi kita. Amin.
http://solihatcollection2.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar